Manggarai Timur: Masyarakatnya Tampan, Pemerintahnya Buruk Rupa
![]() |
| Jalan Rusak Parah Di Kecamatan Lambaleda, Manggarai Timur |
Tajukharian.com- Hari Kamis, tanggal 15 Januari 2026 saya dan keluarga bepergian
ke Manggarai Timur. Kami hendak menuju ke sebuah kampung tempat tinggal saudari
saya. Kebetulan suaminya dari kampung itu. Jaraknya Kurang lebih 7 kilo meter
dari Benteng Jawa, Kota Kecamatan Lambaleda.
Di persimpangan jalan Kecamatan Elar dan Benteng Jawa, saya
berhenti. Disitu ada kantin, melayani pesan bakso dan kopi. Saya lihat mulut Kesa
saya keluar asap saat bicara. Padahal tidak sedang merokok. Kami ngobrol. Mulut
saya juga keluar asap. Sama-sama tidak sedang merokok. Asap yang saya maksud
itu ternyata kabut napas atau kondensasi uap air, yang sebenarnya adalah
tetesan air kecil atau kristal es akibat uap air hangat dari paru-paru bertemu
dengan udara dingin di luar. Istilah ini saya tahu setelah searching di internet.
Tanta, pesan bakso dua dan kopi dua. Satunya kopi tanpa gula
Tanta. Baik om. Dengan segera Tanta itu melayani kami.
Kopi yang baru saja diseduh itu mengepulkan uap tipis. Hangat
ditenggorokan. Tambah lagi dengan kepulan asap Marllboro Filter Black. Bikin tambah
gairah. Pemilik kantin, dengan senyum tulus melayani kami. Rasanya seperti di
rumah sendiri.
Setelah satu jam, kami melanjutkan perjalanan.
Perjalanan menyusuri wilayah ini bukanlah sebuah plesir yang
menenangkan, melainkan sebuah ujian nyali. Begitu keluar dari jalur utama,
aspal mulus seolah menjadi barang mewah yang punah. Saya harus berhadapan
dengan apa yang warga lokal sebut sebagai "jalan", meski lebih tepat
disebut aliran sungai kering yang dipenuhi bebatuan lepas. Batu-batu itu kasar
dan sangat licin. Berkendara di sini ibarat melakukan dansa maut di atas batu.
Roda motor berputar di tempat, mesin meraung kesakitan.
Di tanah ini, dengan mudah menemukan "ketampanan" yang
saya maksudkan di judul. Bukan sekadar visual, melainkan ketampanan budi
pekerti, kegigihan petani, dan ketulusan warga menyambut orang asing. Namun,
ketampanan orang-orang Manggarai Timur berbanding terbalik dengan rupa
"wajah" pemerintahnya yang
tercermin dari infrastruktur jalan yang kami lalui saat itu.
Sangat ironis melihat kekayaan alam yang begitu melimpah
terhambat oleh infrastruktur yang "buruk rupa". Manggarai Timur
adalah lumbung komoditas unggulan. Namun, apa gunanya panen melimpah jika biaya
transportasi lebih mahal daripada harga jual di pasar?.
Singkat cerita, sampailah kami di tempat tujuan, kampung
tempat tinggal saudari saya. Oh ia, sebelum saya lupa cerita. Mobil keluarga
yang sama-sama dengan kami saat itu enggan masuk. Mampunya hanya sampai di Benteng
Jawa, Kota Kecamatan Lambaleda
Di sini ada Kopi, Kemiri yang sangat berlimpah, tambah lagi
Porang yang mereka anggap sebagai tambahan saja. Mereka menganggap Porang ini
sebagai hasil bumi tambahan karena pada umumnya tumbuh sendiri di bawah pohon-pohon
kemiri yang mereka tanam. Tanpa prosedur perawatan yang sesuai menurut ahli
pertanian. Di sini tanahnya sangat subur.
"Kami punya kopi terbaik, kemiri yang sangat banyak, kami
punya semangat kerja, tapi kami tidak punya jalan bagus untuk dilalui. Di sini
juga ada porang, tanpa kami tanam, memang barang ini tumbuh begitu saja di
bawah pohon kemiri dan kopi" ujar seorang warga. Saya lupa tanya namanya.
Potensi ekonomi yang seharusnya mampu menyejahterakan rakyat
justru terpasung oleh ketidakpedulian otoritas. Mobilisasi hasil bumi yang
lambat bukan hanya menghambat perputaran uang, tetapi juga akses kesehatan dan
pendidikan. Bayangkan, setelah lewat Benteng Jawa, kami mendapati kurang lebih
4 papan penunjuk arah ke Puskesmas. Papan nama Sekolah lebih banyak lagi. Bagi
masyarakat Manggarai Timur, jalan raya yang layak bukan lagi fasilitas,
melainkan impian yang tak kunjung terwujud.
Ini untuk kedua kalinya saya ke tempat ini. Pertama tahun
2021. Lima tahun kemudian wajah jalan di sini masih sama seperti dulu.
Ketampanan masyarakat Manggarai Timur terletak pada
kesabaran mereka yang seluas samudra. Mereka pekerja keras, dan tetap menyapa
tamu dengan ramah meski pemerintah mereka memberikan "wajah" yang
bopeng dan rusak.
Pembaca yang budiman, demikian dulu kisah saya. Saya tulis cerita ini dengan sedikit perasaan geram. Soalnya, saya merasa saudari saya sangat jauh. Harus melewati jalanan yang uji nyali. Jadinya jarang berkunjung, walaupun sangat rindu.







