Menjadi Guru Adalah Tugas Panggilan: Refleksi 10 Tahun Jadi Guru
Sepuluh tahun, bukan main. Itu bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ribuan pagi, ratusan tawa, dan tak terhitung peristiwa suka dan duka yang sudah dialami di ruang kelas. Bahkan pernah,hampir bergelut dengan Siswa, gara-gara saya meminta mengumpulkan tugas kepada seorang siswa. Siswa tersebut menendang meja dengan keras sambil mengeluarkan kata-kata kotor. Untung saja waktu itu saya biasa-biasa saja. Itulah enaknya bisa mengelola emosi dengan baik.
Ketika orang bertanya,
"Mengapa masih bertahan menjadi guru?". Jawaban saya selalu sama: profesi
ini adalah panggilan jiwa. Oh ia, untuk diketahui. Saya mengajar di Sekolah
Menengah Kejuruan. Muridnya dalam perkembangan sedang menuju dewasa.
Barangkali bagi banyak orang, guru adalah profesi yang
kaku, terikat, dan penuh dengan rutinitas. Bagaimana tidak. Bangun pagi, harus
duluan ke sekolah, biar bisa beri teladan kepada Siswa. Yah, (jujur) saya
menyadari terkadang juga saya datang terlambat. Ini tentu jadi bahan evaluasi
saya. Mudah-mudahan saya menjadi lebih baik kedepannya dengan terus berbenah
diri. Bagi saya, profesi ini adalah panggung drama paling dinamis yang pernah
ada. Pengalaman satu dekade ini menjadi bahan bakar motivasi yang tiada
habisnya. Alasan saya sederhana: saat menjadi guru, saya bisa menyaksikan secara
langsung dampak nyata dari setiap tetes usaha yang saya keluarkan. Melihat
Siswa senang dengan saya saja, itu sudah luar biasa. Apalagi kalau mereka
memahami materi yang saya ajarkan.
Menjadi Guru, dampaknya bersifat ganda. Timbal balik. Alias
resiprokal, kalau saya gunakan istilah orang yang sering bicara di TV. Tugas
Guru tidak hanya membentuk pertumbuhan kognitif Siswa yang duduk di kelas,
tetapi juga tanpa henti mengukir dan mengasah diri saya sebagai Guru, setiap
hari. Orang yang berada di balik meja Guru ini juga adalah seorang murid abadi.
Menimba pengalaman setiap hari bersama Siswa.
Setiap Siswa datang dengan peta kognitif, karakteristik, dan gaya belajar yang memiliki keunikannya masing-masing. Keadaan seperti inilah yang memaksa saya untuk selalu berubah dan berbenah. Rutinitas saya setiap hari adalah menyiapkan materi, bahan ajar, dan metode ajar yang mau tidak mau (harus) adaptif. Terutama ketika mengajar ditengah kepungan kemajuan teknologi digital saat ini. Jika tahun lalu saya sukses dengan metode diskusi, tahun ini saya mungkin harus beralih ke simulasi atau demonstrasi, di mana murid memperagakan dan menjelaskan secara langsung segala sesuatu yang sudah mereka pahami.
Disela-sela aktivitas Siswa, saya melemparkan jokes-jokes ringan, biar
mereka tidak kaku. Begitu seterusnya. Selalu disesuaikan dengan keadaan saat
itu. Istilah yang biasa orang gunakan adalah pembelajaran kontekstual. Tuntutan
semacam inilah yang mendorong saya untuk terus berinovasi, dan justru hal
inilah yang menurut saya, membuat profesi ini jauh dari kata membosankan.
Inovasi yang tercipta memang demi Siswa, tetapi pada akhirnya, menjadi hadiah
terbesar bagi pertumbuhan profesional saya sendiri.
Kisah paling berharga adalah saat melihat keberhasilan
Siswa. Energi terbesar datang bukan dari tepuk tangan, tetapi dari sorot mata
yang tiba-tiba berbinar ketika mereka akhirnya memahami materi yang saya
ajarkan. Rasa semangat dan bahagia yang saya rasakan saat itu adalah penghargaan
paling besar untuk peluh keringat yang saya keluarkan.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ada tantangan yang
jauh lebih menarik. Saya merasa paling tertantang justru ketika ada Siswa yang
menemukan kesulitan saat belajar. Kesulitan Siswa seolah pengingat bagi saya
untuk jeda sejenak dari pengajar dan beralih sepintas menjadi peneliti. Ini
memicu saya untuk melakukan riset kecil-kecilan, menggali akar masalah, mencari
tahu mengapa metode tersebut gagal membuat Siswa paham, lalu merancang solusi untuk
mengatasi kesulitan yang dialami Siswa. Proses inilah yang membuat saya semakin
betah.
Mengabdi selama 10 tahun telah menumbuhkan keyakinan
yang mengakar. Guru bukan hanya penyampai ilmu. Guru adalah penanam benih. Menanamkan
rasa ingin tahu, etika, dan yang paling penting adalah harapan. Saya mencintai
profesi ini, saya mencintai Siswa-siswa saya, saya mencintai masa depan
Indonesia.
“Kakak di mana?, Mari ke Rumah di belakang Sekolah”. Ini
Kemarin (25 November 2025). Saya ditelpon oleh Pak Boni waktu sama-sama ikut
kemeriahan Hari Guru Nasional (HGN) tingkat Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa
Tenggara Timur, di SMPN 4 Wol. Pak Boni mengajak saya untuk minum kopi. Pak Boni
adalah salah seorang mantan Siswa saya yang sekarang sudah sama-sama menjadi
Guru di SMKN 1 Welak. Para
Penulis adalah Guru pada SMKN 1 Welak, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat.
