UPDATE

Etika Dalam Budaya Lonto Leok, Refleksi Filosofis Atas Persaudaraan Orang Manggarai

Foto: file-pribadi/Augustinus-Rinus-Angkat

Di tanah Manggarai yang berhembus angin lembut dari bukit dan lembah, terbentang lingkaran manusia, tangan bertaut, pandangan saling menatap, hati menyatu tanpa kata. Itulah  Lonto Leok, tempat kata-kata menjadi nyanyian dan sunyi pun berbicara dengan bijaksana. Sebuah ruang di mana kata-kata ditimbang sebelum dilepas, di mana keputusan lahir bukan dari teriakan, melainkan dari kesediaan mendengar. Di sanalah persaudaraan dirawat sebagai laku hidup. Jika kita menyorotnya dengan cahaya refleksi etis sebagaimana dirumuskan oleh Franz Magnis Suseno dalam Etika Dasar, kita akan menemukan bahwa lingkaran adat itu bukan sekadar tradisi, melainkan praksis moral yang hidup.

Magnis Suseno berbicara tentang prinsip-prinsip moral dasar yang menuntun manusia agar hidup secara baik dan benar: sikap hormat terhadap martabat manusia, prinsip keadilan, tanggung jawab, solidaritas dan keberanian moral. Menariknya, nilai-nilai itu telah lama berdenyut dalam jantung budaya Manggarai, jauh sebelum ia dirumuskan dalam bahasa filsafat.

Pertama, prinsip hormat terhadap martabat manusia. Bagi Magnis, setiap pribadi memiliki nilai pada dirinya sendiri dan tidak boleh diperalat. Dalam Lonto Leok, martabat itu dijaga dengan cara yang sederhana namun mendalam: setiap orang diberi ruang untuk berbicara. Tak peduli tua atau muda, kaya atau sederhana, suaranya tetap diperhitungkan. Duduk melingkar adalah simbol bahwa tak seorang pun lebih tinggi dari yang lain. Dalam sikap saling menatap itu, terkandung pengakuan: engkau adalah sesama yang layak didengar.

Di tengah dunia yang gemar menginstrumentalisasi manusia demi kepentingan politik atau ekonomi, Lonto Leok menghadirkan perlawanan sunyi. Ia berkata bahwa manusia bukan alat, melainkan tujuan. Persaudaraan dibangun di atas pengakuan itu, bahwa kita berharga bukan karena fungsi, melainkan karena kemanusiaan.

Kedua, prinsip keadilan. Magnis Suseno menekankan bahwa keadilan menuntut perlakuan yang fair dan penghormatan terhadap hak setiap orang. Dalam praktik Lonto Leok, keputusan tidak boleh berat sebelah. Musyawarah berlangsung hingga tercapai mufakat yang bisa diterima bersama. Keadilan di sini bukan soal menang dan kalah, melainkan soal pulihnya keseimbangan relasi. Jika ada sengketa tanah, konflik keluarga atau perselisihan antarwarga, penyelesaiannya diarahkan pada rekonsiliasi, bukan pembalasan.

Keadilan yang demikian selaras dengan filosofi hidup orang Manggarai yang menempatkan harmoni sebagai tujuan. Seperti lingko yang terbagi merata dari satu pusat, setiap orang mendapat bagian tanpa merampas milik yang lain. Prinsip moral keadilan menemukan wujud konkretnya dalam tata hidup komunal.

Ketiga, tanggung jawab. Dalam Etika Dasar, Magnis Suseno menegaskan bahwa manusia bermoral adalah manusia yang bersedia mempertanggungjawabkan tindakannya. Lonto Leok tidak hanya menjadi ruang bicara, tetapi juga ruang pertanggungjawaban. Siapa yang bersalah dipanggil untuk menjelaskan; siapa yang keliru diajak untuk memperbaiki. Namun semua itu dilakukan dalam kerangka menjaga persaudaraan, bukan mempermalukan.

Tanggung jawab dalam budaya Manggarai bersifat kolektif sekaligus personal. Kesalahan individu bisa berdampak pada nama baik keluarga atau kampung. Karena itu, setiap orang diingatkan bahwa tindakannya tidak pernah sepenuhnya privat. Di sini kita melihat bagaimana etika tanggung jawab tidak berdiri abstrak, tetapi berakar dalam kesadaran komunal: aku bertanggung jawab bukan hanya kepada diriku, tetapi juga kepada sesamaku.

Keempat, solidaritas. Magnis Suseno memandang solidaritas sebagai kesediaan untuk berdiri bersama mereka yang lemah dan menderita. Dalam kehidupan orang Manggarai, solidaritas bukan konsep teoritis. Ia tampak dalam gotong royong membangun rumah, dalam kehadiran saat duka, dalam sumbangan saat pesta adat. Lonto Leok memperkuat solidaritas itu dengan memastikan bahwa tak ada persoalan yang dihadapi sendirian. Masalah satu orang menjadi urusan bersama.

Persaudaraan, dalam terang solidaritas, berarti memikul beban bersama. Ia menuntut empati, kemampuan merasakan luka orang lain sebagai luka sendiri. Lingkaran Lonto Leok menjadi simbol bahwa kita terikat dalam nasib yang sama.

Kelima, keberanian moral. Magnis Suseno menulis bahwa moralitas menuntut keberanian untuk mengatakan yang benar, meski tidak populer. Dalam Lonto Leok, keberanian itu hadir ketika seseorang menyampaikan kritik demi kebaikan bersama, atau ketika tetua adat menegur pelanggaran tanpa takut kehilangan simpati. Keberanian moral bukan agresivitas, melainkan keteguhan pada nilai.

Di zaman ketika tekanan sosial dan kepentingan pragmatis sering membungkam suara hati, semangat Lonto Leok mengingatkan bahwa berkata benar dalam lingkaran persaudaraan adalah bentuk cinta. Teguran bukanlah serangan, melainkan upaya menjaga agar tali relasi tidak putus.

Dengan demikian, membidik persaudaraan dalam budaya Lonto Leok sesungguhnya adalah menghidupi etika dasar dalam bentuk yang konkret dan kontekstual. Apa yang dirumuskan Magnis Suseno dalam bahasa filsafat, telah lama dipraktikkan dalam bahasa adat oleh orang Manggarai. Keduanya bertemu dalam satu titik: penghormatan terhadap manusia sebagai makhluk bermartabat yang dipanggil untuk hidup adil, bertanggung jawab, solider dan berani secara moral.

Persaudaraan bukan sekadar perasaan hangat, melainkan komitmen etis. Ia menuntut disiplin batin dan kesediaan untuk menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan diri. Dalam setiap Lonto Leok yang digelar, orang Manggarai sedang merayakan etika yang hidup, etika yang tidak berhenti pada teori, tetapi menjelma dalam keputusan nyata.

Dan mungkin, di tengah krisis moral yang kerap kita keluhkan hari ini, kita perlu kembali duduk melingkar, mendengar dengan hormat, berbicara dengan adil, bertindak dengan tanggung jawab, merangkul dengan solidaritas dan berdiri dengan keberanian moral. Sebab di sanalah persaudaraan menemukan bidikannya yang paling tepat: hati manusia yang bersedia hidup secara etis.


Oleh: Augustinus Rinus Angkat

Type and hit Enter to search

Close